Faruk Hanafi Kepala BAPENDA Sumenep Dorong Inovasi di HLM-ETPD: Strategi Baru Tingkatkan PAD Sumenep

Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Sumenep kembali mencuri perhatian melalui inisiatif High-Level Meeting Elektronik Transaksi Pemerintah Daerah (HLM-ETPD) Tahun 2024. Acara yang berlangsung megah di Graha Aria Wiraraja ini menandai babak baru transformasi digital di lingkungan pemerintahan Kabupaten Sumenep. Dibuka langsung oleh Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, kegiatan ini menjadi panggung untuk mempertegas komitmen pemerintah dalam optimalisasi pendapatan daerah melalui sistem digital.

Faruk Hanafi, Kepala Bapenda Sumenep, menyoroti pentingnya inovasi digital sebagai pilar strategis dalam pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan pencapaian pajak daerah yang telah melampaui target awal sebesar Rp45 miliar hingga mencapai 110%, optimisme membumbung tinggi. Namun, di balik angka gemilang ini, Faruk menyingkap tantangan pada sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Perkotaan dan Pedesaan yang masih jauh dari harapan.

“PBB-P2 ini masih menjadi pekerjaan rumah besar. Hingga pertengahan Desember, kita baru mencapai Rp5,05 miliar dari target Rp7 miliar. Kekurangan ini tentu menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya. Lebih lanjut, Faruk menjelaskan, koordinasi intensif di tingkat kecamatan dan desa akan menjadi kunci untuk mendongkrak pencapaian ini.

Bupati Achmad Fauzi menggarisbawahi pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendorong capaian pajak yang optimal. Menurutnya, digitalisasi tidak sekadar memodernisasi sistem, tetapi juga menciptakan transparansi yang lebih baik. Dengan sistem elektronik, pemerintah dapat memantau kinerja pajak secara real-time, memberikan gambaran konkret terhadap efisiensi program yang berjalan.

Tidak hanya itu, Fauzi juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi, yakni kurangnya kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban pajak. Hal ini, katanya, dapat diatasi melalui pendekatan yang lebih fleksibel dan edukasi yang intensif tentang pentingnya pajak untuk pembangunan.

Keberhasilan dua kecamatan, Lenteng dan Kota, yang mampu mencapai pencapaian PBB di atas 69% menjadi inspirasi. Namun, Fauzi mengingatkan, lima kecamatan lainnya dengan pencapaian rendah, seperti Dasuk dan Pasongsongan, harus segera berbenah. Dalam upaya ini, elektronifikasi menjadi salah satu solusi andalan.

Faruk optimis bahwa indeks elektronifikasi transaksi Pemkab Sumenep, yang kini mencapai 96,02%, bisa tembus 98% pada tahun depan. Hal ini akan membawa Sumenep masuk dalam 10 besar daerah digital terbaik di Jawa Timur, sebuah pencapaian yang akan menjadi tonggak sejarah.

“Elektronifikasi adalah jalan masa depan. Dengan integrasi data yang solid, kita bisa merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran. Ini bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga revolusi pelayanan publik,” tutup Faruk.

Langkah berani Bapenda ini diharapkan dapat memberikan efek domino positif bagi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sumenep. Dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah, desa, dan masyarakat, impian menjadi daerah dengan sistem pengelolaan pajak terbaik semakin mendekati kenyataan.