Meneladani Nabi Muhammad SAW Lewat Pajak: Bapenda Sumenep Wujudkan Aparatur Jujur Bersama K.H. Taufiq

matalampion.com - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah oase spiritual yang selalu dinantikan oleh umat Islam untuk menyegarkan kembali ingatan akan teladan sang pembawa risalah kebenaran. Dalam konteks penyelenggaraan negara, peringatan ini menjadi medium yang teramat strategis untuk menyuntikkan doktrin-doktrin moral ke dalam nadi birokrasi pemerintahan. Tanpa adanya fondasi keimanan yang tangguh, mesin birokrasi rentan tergelincir ke dalam praktik-praktik penyimpangan yang merugikan rakyat. Oleh sebab itu, harmonisasi antara tuntutan profesionalisme kerja dan ketaatan beragama menjadi sebuah agenda prioritas yang tak boleh diabaikan oleh para abdi negara dalam menjalankan fungsinya sehari-hari.

Langkah konkret untuk merajut harmonisasi tersebut tergambar dengan sangat indah dalam sebuah majelis ilmu yang digelar secara internal oleh aparatur pengelola keuangan daerah. Acara selawatan dan tausiyah agama ini dilangsungkan dengan khidmat di Kantor Bapenda Kab. Sumenep. Atmosfer di dalam Kantor Bapenda Kab. Sumenep pada hari itu terasa sangat berbeda; deru mesin pencetak dan suara ketikan komputer berganti dengan alunan ayat suci Al-Qur'an dan selawat nabi yang syahdu. Pemilihan kantor sebagai pusat kegiatan rohani ini ditujukan untuk menetralisasi energi negatif sekaligus menegaskan bahwa tempat kerja adalah ladang ibadah yang sesungguhnya bagi para pegawai.

Hadir di tengah-tengah para stafnya, pucuk pimpinan instansi memberikan wejangan yang menitikberatkan pada urgensi pembentukan karakter aparatur yang berakhlak mulia. Kepala Bapenda Kab. Sumenep, Ferdiansyah Tetrajaya, memaparkan betapa pentingnya mengadopsi sifat kepemimpinan Rasulullah dalam mengemban tugas negara. Beliau menggarisbawahi bahwa setiap lembar uang pajak yang dipungut dari jerih payah rakyat harus dikelola dengan tingkat kejujuran yang paling maksimal. Integritas moral yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW harus menjadi perisai utama yang membentengi setiap individu pegawai dari hasrat untuk memperkaya diri sendiri dengan cara-cara yang curang.

Dukungan terhadap terciptanya tata kelola birokrasi yang berlandaskan syariat juga ditegaskan oleh figur penting di jajaran manajerial. Sekretaris Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Sumenep, R.B. Achmad Salaf Junaidi, turut mengingatkan bahwa ketertiban administrasi merupakan cerminan dari sifat Fathonah (cerdas) dan amanah yang dimiliki Rasulullah. Beliau meminta seluruh jajarannya untuk mempraktikkan kejujuran secara konkret, mulai dari hal terkecil seperti disiplin jam kerja hingga akurasi dalam menghitung potensi pajak. Sikap transparan dan dapat dipertanggungjawabkan inilah yang akan menjadi penentu keberhasilan instansi dalam memajukan perekonomian daerah.

Untuk memperkuat resonansi pesan moral tersebut, panitia penyelenggara secara khusus menghadirkan sosok ulama yang dihormati di daerah tersebut. Penceramah K.H. Taufiq tampil ke mimbar memberikan siraman rohani yang mengupas tuntas relasi antara ajaran Islam dan kewajiban perpajakan dalam sistem negara modern. Beliau menjelaskan bahwa mengelola kas negara dengan jujur merupakan implementasi langsung dari konsep Hablum Minannas (hubungan baik antarmanusia) yang sangat dianjurkan dalam Islam. Uraian yang disampaikan dengan bahasa yang santun dan mudah dipahami ini sukses membuat para jamaah yang hadir merenungi esensi dari profesi yang mereka sandang saat ini.

Gagasan utama yang terus digaungkan sepanjang acara ini adalah meneladani Nabi Muhammad SAW untuk mewujudkan aparatur Bapenda yang amanah, jujur, dan berorientasi pelayanan. Formulasi kalimat ini bukanlah sekadar tema pajangan semata, melainkan sebuah komitmen institusional yang harus mendarah daging. Amanah berarti memelihara kepercayaan rakyat dengan sepenuh hati; jujur berarti melaporkan setiap data sesuai dengan realitas di lapangan; sementara berorientasi pelayanan bermakna menempatkan kepentingan masyarakat di atas ego sektoral. Ketiga pilar ini adalah kunci sukses birokrasi yang rahmatan lil 'alamin.

Dalam aplikasinya, orientasi pelayanan yang diinspirasi oleh akhlak Nabi harus tampak pada front office atau loket-loket pelayanan pajak daerah. Ketika ada wajib pajak yang kebingungan mengisi formulir, aparatur dituntut untuk membimbingnya dengan penuh kesabaran tanpa memperlihatkan raut wajah yang masam. Senyum yang tulus, tutur kata yang sopan, dan solusi yang solutif adalah wujud nyata dari akhlakul karimah (akhlak yang mulia) dalam dunia birokrasi. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang menyatakan bahwa senyum di hadapan saudara adalah bentuk dari sedekah.

Kepercayaan masyarakat atau public trust adalah modal sosial yang paling berharga bagi institusi mana pun yang bertugas mengumpulkan dana masyarakat. Ketika wajib pajak melihat bahwa aparatur Bapenda benar-benar menerapkan kejujuran ala Rasulullah, maka secara otomatis akan tumbuh kesadaran dan keikhlasan dalam diri mereka untuk menyetorkan pajaknya. Mereka tidak akan lagi merasa dirampas hartanya, melainkan merasa sedang berkontribusi dalam sebuah gerakan kebaikan komunal. Pajak yang dibayarkan dengan niat ikhlas untuk membangun daerah ini kelak akan bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Serangkaian acara peringatan ini kemudian ditutup dengan panjatan doa yang khusyuk agar seluruh abdi negara diberikan kekuatan iman dalam menolak berbagai godaan koruptif. Tangis haru dan penyesalan atas khilaf di masa lalu tampak tersirat di wajah beberapa peserta, menandakan bahwa pesan moral dari peringatan Maulid ini benar-benar meresap ke dalam kalbu. Titik balik ini diharapkan mampu memompa semangat baru bagi seluruh jajaran untuk bekerja lebih giat, lebih teliti, dan lebih ikhlas demi kemaslahatan warga Kabupaten Sumenep secara keseluruhan.

Sebagai penutup, inisiatif memadukan peringatan Maulid Nabi dengan resolusi kerja ini merupakan sebuah langkah progresif yang patut diapresiasi tinggi. Keberhasilan acara ini membuktikan bahwa Bapenda bukan sekadar mesin kalkulator pencetak uang daerah, melainkan kumpulan insan beriman yang memiliki nurani. Dengan memegang teguh prinsip-prinsip kenabian dalam setiap detik pengabdiannya, para pahlawan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ini dipastikan mampu membawa daerahnya menuju puncak kemandirian ekonomi yang diberkahi oleh sang Pencipta.